Wednesday, November 25, 2009

LELAKI YANG JAUH

gumpalan rindu yang menerobos pasak hati
jujur mencari kepastian
andai ada dilemma
perlu dileraikan

aku adalah lelaki yang jauh
di dalam hayat pandangmu
apa dapat ku rungkai, dilemma diri ?

supaya engkau sentiasa
menjadi perempuan yang manis
dukamu biarlah menerjah
di sudut yang jauh

waktu tak kesampaian, luka
biarkan sembuh sendiri




(catatan buat norzi)

POHON PUISI

benih puisi yang ku tanam
kelihatan tumbuh, kini
telah
menebarkan pucuk-pucuk muda
tetapi
tiada terlihat beburung yang singgah
apakah pohon puisiku ini
mampu menghiburkan rerama ?

RAKYAT

cabang dan ranting duka bercambah
di hati rakyat kini
derita yang tidak diatasi oleh 'mereka'

harga ikan tinggi
insuran kereta tinggi
pelbagai saman, penjahat berkeliaran

selepas ini kita perlu pilih hanya
orang-orang yang mengerti, akan
derita rakyat
bukan
mereka yang berlegar-legar di padang golf
melupakan sengsara rakyat

dunia ini sepatutnya cukup untuk semua, hanya
kerana adanya orang-orang yang
tamak haloba
jadi begini.

ATAU

mungkin hakim-hakim mahkamah tinggi
seelok-eloknya dimasukkan semula
ke kelas undang-undang

semua keputusan mereka
dengan mudah dipintas oleh
hakim-hakim mahkamah rayuan

atau

letakkan saja 3 ekor kambing jantan
yang berjanggut panjang
yang kelihatan bijaksana
di atas kerusi 'tuan yang arif' di mahkamah rayuan
asalkan
kambing-kambing itu
bisa saja
membaca skrip
yang tersedia

Wednesday, November 11, 2009

SENJA DI PELABUHAN

redup mata mengiringi mentari jatuh di horizon
meninggalkan jejak waktu
saat perpisahan telah tiba
dambaan dua hati terpisah
di antara dua benua
musim ranum menguntum telah lusuh
kini dilalui dengan waham
menunggu saat pertemuan akan berulang ?

angin tersipu-sipu malu
peluit bot nyaring
mentari pun rebah di garis laut


Lumut, Perak
(dari catatan lama : Dis. 1980- memori kepada teman, Norazah yang akan bertolak ke Southern Illinois Universiti, Carbondale, Kansas, USA)

Sunday, November 8, 2009

CAHAYA

tuhanku,
engkau izinkanlah aku berdiri lama
di lingkungan cahaya di taman yang lapang
menyusun indahkata di rimbunan daun-daun
di perkebunan puisi, memujimu, damai
membelai cahaya yang benderang
ada kesaktian berlangsung
di dalam muncung hidup
mendepani kusam sengsara
saat aku terpisah jauh, aku telah kembali
kepadamu

Monday, November 2, 2009

WAKTU YANG MEMBELAI

hari-hari kini aku pasrah, mengimbau
geseran rindu desir angin waktu lalu
yang hilang bersama hamparan harapan tidak kesampaian
pengabadian cinta setia yang jujur tetapi berliku
lalu doa pun terlindung di sebalik
perbukitan sejarah kesulitan dalam desah waktu
menerobos ke angkasa raya
hari-hari indah telah lupus